Minggu, 05 Februari 2017

Tafsir Q.S Al-Maidah : 67 - 68

Kajian Tafsir Al-qur’an Surat Al-Maidah 67 – 68   Bersama Buya yahya
Cirebon, Sabtu 7 Jumadil Awwal 1438 H / 4 Februari  2017 M
Oleh Ahmad Nurhudaya /  Huda Elhadi 
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله رب العالمين, و به نستعين على أمور الدنيا و الدين و الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين و على أله و صحبه أجمعين ( اما بعد )

۞يَٰٓأَيُّهَا ٱلرَّسُولُ بَلِّغۡ مَآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَۖ وَإِن لَّمۡ تَفۡعَلۡ فَمَا بَلَّغۡتَ رِسَالَتَهُۥۚ وَٱللَّهُ 
يَعۡصِمُكَ مِنَ ٱلنَّاسِۗ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَهۡدِي ٱلۡقَوۡمَ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٦٧
67. Hai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak menyampaikan amanat-Nya. Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir ( Q. S Al-Maidah : 67 )

Ø  Alloh SWT memanggil Nabi – Nabi lain selain Nabi Muhammad dengan namanya secara langsung contoh :

-       Q.S Ali – ‘imron : 55
إِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَٰعِيسَىٰٓ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَجَاعِلُ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوكَ فَوۡقَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓاْ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرۡجِعُكُمۡ فَأَحۡكُمُ بَيۡنَكُمۡ فِيمَا كُنتُمۡ فِيهِ تَخۡتَلِفُونَ ٥٥
55. (Ingatlah), ketika Allah berfirman: "Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya"

-       Q.S Maryam : 12
يَٰيَحۡيَىٰ خُذِ ٱلۡكِتَٰبَ بِقُوَّةٖۖ وَءَاتَيۡنَٰهُ ٱلۡحُكۡمَ صَبِيّٗا ١٢
12. Hai Yahya, ambillah Al Kitab (Taurat) itu dengan sungguh-sungguh. Dan kami berikan kepadanya hikmah selagi ia masih kanak-kanak


Akan tetapi Alloh Swt memanggil Nabi Muhammad dengan gelar kemuliaan nabi, karena ingin memberikan contoh bagaimana kita memanggil nabi sekaligus ingin memuliakan dan menampakkan kemuliaan nabi Muhammad SAW

Ketahuilah wahai umat ( Dalam Hal ini orang kafir waktu itu ) sesuatu yang disampaikan oleh rosululloh jika engkau tidak menyukainya maka ketahuilah sesungguhnya itu dari Alloh SWT maka terimalah apa yang datang dari nabi SAW , Karena sesuatu yang datang dari nabi adalah datang dari Alloh SWT. Dan sesuatu yang datang dari alloh pasti baiknya
Apa yang datang dari nabi adalah datang dari alloh SWT

وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ ٣ إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ ٤


Ø  Tidak ada pesan Alloh yang tidak sampai kepada ummat, dan tidak ada pesan yang disembunyikan oleh Nabi Muhammad

Ø  Sebab turunnya Surat al-maidah ayat 67 ini diriwayatkan bahwasanya nabi Muhammad SAW,ketika itu gelisah pada suatu malam dan berkata kepada st Aisyah “ aku membawa agama Alloh swt Akan tetapi aku belum memiliki banyak kawan , sementara orang - orang dimekkah banyak memusuhi saya aku sedikit khawatir kata rosul. Apakah sebaiknya kita menyewa penjaga untuk menjaga rumah Rosul.
Dalam riwayat abu tolib melihat bahwasanya nabi dalam ancaman , karena saking cintanya abu tolib kepada keponakannya “ Nabi Muhammad “ abu tolib ingin menjaga nabi sampai dikatakan dimasa awal perjuangan rosul orang yang menguatkan rosul ada 2 yang menguatkan rosul dari segi luar / dzohir dan batin, dari segi batin st khodijah dan dari segi dzohir adalah pamannya yakni abu tolib sehingga orang kafir quraisy ketika itu tidak ada yang berani menyakiti rosul , bahkan abu tolib memerintahkan orang untuk menjaga rosul,
Dicerikatakan bahwasanya ketika rosululloh berada dirumah st Aisyah, pada malam hari terdengar suara klotak, klotek …. Sehinga rosul bertanya kepad st Aisyah ada apakah itu wahai aisyah ? “ jawab aisyah itu sahabat sa’ad dan khudaifah yang sedang berjaga didepan rumah ya rosul , setelah itu turun ayat kemudian rosul menyuruh kepada aisyah suruh mereka untuk bubar

            Sampai ada penulis sejarah dari belgia yang masuk islam sebab sejarah turunnya ayat ini, dia berkata tidak mungkin nabi Muhammad orang pembohong sebab jika nabi berbohong nabi tidak akan membubarkan sahabat dari menjaga rumahnya, nabi adalah orang jujur . maka dari situlah alloh memberikan hidayah kepada orang tersebut sehingga beliau masuk Islam

Ø  Alloh dan rosulnya tidak membutuhkan bantuan kita , akan tetapi kita yang butuh untuk menolong Alloh dan rosulnya dalam arti kita berjuang dijalan Alloh karena kita butuh , agar kita selamat bersama rombongan nabi Muhammad SAW , kalau kita tidak membela kita akan tertinggal dan kita membela nabi adalah untuk kita

إن تنصروا الله ينصركم
                                                                                   
Makna menolong alloh adalah mencintai agama Alloh dan merasa marah jika agama Alloh dilecehkan oleh orang muslim itu sendiri ataupun orang diluar islam
Contoh :
Kamu menemukan alquran tergeletak d tong sampah kemudian kamu berkata “ al-quran adalah suci biarpun ditempat kotor tidak akan kotor , biarin saja karena dia adalah alqur’an yang suci , jika seperti itu kamu kurangajar kepada al-qur’an . maka sikap kita adalah mengambil al-quran itulah yang namanya Iman
                                                                                                       
Ø  Marah yang diiringi syariat dapat menimbulkan sifat syaja’ah ( Sifat pemberani ), akan tetapi marah yang tanpa bibingan syari’at akan menimbulkan sifat ngawur

Ø  Sesungguhnya alloh tidak akan memberikan petunjuk kepada orang – orang kafir

Contoh :
Abu jahal yang hampir melihat semua mukjizatnya nabi Muhammad Saw, akan tetapi beliau tidak masuk islam dan tidak beriman kepada nabi Muhammad, karena alloh tidak memberikan hidayah kepada beliau
Oleh karena itu bersyukurlah anda wahai yang pada saat ini melakukan ibadah mudah, hadir dimajelis mulia mudah maka itu perlu kita syukuri karena tidak semua orang mendapatkan hidayah seperti yang kita rasakan pada saat ini
Begitupun orang yang sombong dengan kekafiran mereka , mereka tidak akan mendapat hidayah Alloh SWT , akan tetapi perlu kita ingat bahwasanya diantara hamba - hamba, yang kita lihat seolah - olah dia itu menjadi sebab kehancuran tapi alloh rubah menjadi sebab kejayaan seperti: sayyidina umar bin khottob, wahsyi ( sng pembunuh paman nabi sayyidina hamzah)

Ø  Banyak sebab iman kita d cabut oleh Alloh SWT, tidak membela al-qur’an tidak membela islam, tidak membela rosulullah itulah yang menyebabkan dicabut hidayah oleh Alloh SWT



قُلۡ يَٰٓأَهۡلَ ٱلۡكِتَٰبِ لَسۡتُمۡ عَلَىٰ شَيۡءٍ حَتَّىٰ تُقِيمُواْ ٱلتَّوۡرَىٰةَ وَٱلۡإِنجِيلَ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُم مِّن رَّبِّكُمۡۗ وَلَيَزِيدَنَّ كَثِيرٗا مِّنۡهُم مَّآ أُنزِلَ إِلَيۡكَ مِن رَّبِّكَ طُغۡيَٰنٗا وَكُفۡرٗاۖ فَلَا تَأۡسَ عَلَى ٱلۡقَوۡمِ ٱلۡكَٰفِرِينَ ٦٨
68. Katakanlah: "Hai Ahli Kitab, kamu tidak dipandang beragama sedikitpun hingga kamu menegakkan ajaran-ajaran Taurat, Injil, dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu". Sesungguhnya apa yang diturunkan kepadamu (Muhammad) dari Tuhanmu akan menambah kedurhakaan dan kekafiran kepada kebanyakan dari mereka; maka janganlah kamu bersedih hati terhadap orang-orang yang kafir itu ( Q. S Al-Maidah : 68 )

Ø  Ada orang2 itu yang apabila diturunkan ayat2 alloh mereka berkata “ Hukumnya repot , berat, apaan tuh seperti itu, bukan bangga atas apa yang diturunkan Alloh akan tetapi mereka meihatnya dengan mata picik, seperti pandangan mereka terhadap syariat waris yang mengatur bahwasanya haknya anak laki2 2x lipat dibanding anak perempuan , mereka mengatakan tidak adil dsb
Kemudian mengomentari hak cerai kenapa hanya bagi laki – laki saja,  bagi perempuan tidak , mereka mengatakan tidak adil
Inilah pandangan mereka orang – orang yang didalam hatinya terdapat kemunafikan atau kekafiran yang yang sesungguhnya.

Ø  Ada juga macam orang yang semakin dijelaskan kebenaran mereka bukan semakin insyaf. Malah semakin benci dan mencari kesalahan – kesalahan islam

Ø  Didalam berjuang anda tidak usah pusing , tidak usah mikirin orang2 kafir, tidak usah terhenti dengan sebab  masih ada yang belum dapat hidayah dsb , tetap berjuang karena tugas kita adalah berjuang dijalan Alloh SWT. Sebab orang2 kafir yang sekarang memusuhi islam mungkin nanti akan balik memihak kepada islam seperti contoh : sayyidina umar, para sahabat ketika berperang bersama rosul melawan kafir Quraisy dan saat itu sayyidina umar masih dalam keadaan kafir mereka terheran2 kok bisa sayyidina umar selamat dari peperangan padahal ketika itu orang2 islam sudah hampir membunuhnya. Ternyata apa faidahnya Sayyidina Umar masuk islama kemudian islam Berjaya dengan masuk islamnya sayyidina umar .
Bukan berarti kita kepada orang2 kafir lembek dalam artian jika mereka merendahkan syariat islam kita tegakkan, setalh kita menegakkan syariat islam maka jika mereka tetp bandel kita tidak perlu gelisah mudah2an alloh memberikan hidayah kepad mereka sehingga islam jaya melalui mereka .

            Dan sesuatu yag tidak mustahil orang2 yang sekarang berada dibarisan orang2 kafir mereka akan baik berada dibarisan rosululloh SAW. Seperti halnya wahsyi yang pernah mebunuh sayyidina hamzah dia mendapat hidayah kemudian ingin bertaubat dari dosanya dimasa lalu, dia ingin menggantinya karena dia pernah membunuh orang yang sangat berpengaruh didalam islam Yaitu sayyidina hamzah , diapun ingin membunuh orang yang paling hina dan orang yang paling berdosa yaitu orang yang mangaku nabi yaitu “ musailamah alkadzab” pada waktu itu.  kemudian dalam peperangan melawan musailamah sayidina wahsyi berhasil membunuh sang pembohong “ musailamah alkadzab”
Kemudian dia mati syahid dan masuk surga bersama rosulullloh SAW.

Wallohu a’lam Bisssowab


Jumat, 03 Februari 2017

Definisi Tauhid - Bersama Ust Muhammad Nur

Kajian Aqidah  Bersama Al -  Ustadz Muhammad Nur
Cirebon, Ahad 4 Jumadil awwal 1438 H / 1 Februari 2017 M
Oleh Ahmad Nurhudaya /  Huda Elhadi 

بسم الله الرحمن الرحيم


الحمد لله رب العالمين, و به نستعين على أمور الدنيا و الدين و الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين و على

 أله و صحبه أجمعين ( اما بعد )

Pada pertemuan pertama ini kita akan belajar mengenai ilmu tauhid / Aqidah
Sebelum kita berbicara dan membahas tauhid, seyogyanya kita harus mengetahui apa itu tauhid ?

Definisi tauhid dibagi menjadi 3 :
1.      Definisi Tauhid secara Bahasa
2.      Definisi tauhid secara istilah
3.      Definisi tauhid secara syari’at

1.      Definisi tauhid secara Bahasa
Adalah Menjadikan sesuatu yang banyak menjadi Satu
Contoh :
Kita mempunyai banyak kitab dari berbagai bidang agama , seperti fiqih, aqidah, akhlaq dll dan kita ingin menjadikan kitab yang kita punya itu menjadi satu jilid maka itu adalah definisi tauhid secara Bahasa
Atau contoh yang lain negri kita Indonesia , didalam negri kita ini terdapat banyak daerah – daerah yang berbeda – beda maka kita kumpulkan daerah- daerah itu menjadi satu dengan nama “ Indonesia “

2.      Definisi Tauhid secara istilah
Adalah “

علم يبحث عن إثبات عقائد الدينية الصحيحة من أدلتها اليقينية القطعية سواء كان عقلية أو نقلية
“Ilmu yang membahas tentang ketetapan aqidah yang benar dengan dalil -  dalil baik secara aqliyah atau aqliyah”

3.      Definisi tauhid secara syari’at
Adalah :

إفراد المعبود بالعبادة مع الإعتقاد وحدة المعبود ذات أو صفات أو فعلا

Menghususkan bahwa Alloh swt dzat yang maha disembah dan meyakini bahwasanya Alloh SWT esa baik didalam dzat, sifat, da pekerjaan-Nya


Ø  Kelompok yang melenceng didalam Beraqidah :

1.      Ada kelompok yang meyakini bahwasanya alloh adalah dzat yang wajib disembah akan tetapi mereka meyakini didalam ibadahnya ada tuhan lain yang disembah Selain Alloh , dalam artia mereka belum mengkhususkan penyembahannya hanya kepada Dzat Alloh maka mereka belum dikatakan bertauhid.
2.      Kelompok Tsanawi
Mereka adalah kelompok yang meyakini bahwasanya tuhan ada 2, mereka meyakini Alloh adalah tuhan akan tetapi mereka mengatakan ada tuhan yang yang wajib disembah selain alloh SWT, maka merekapun belum bisa dikatakan sebagai seorang yang bertauhid .

Wallohu a’lam Bissowab.





Menjaga Rahasia Bag 1 - Riyadsussolihin - Buya yahya

Kajian Ahad Pagi Dengan kajian Kitab Riyadussolihin Bersama Buya yahya
Cirebon, Ahad 29 Januari 2017 M
Oleh Ahmad Nurhudaya /  Huda Elhadi 

بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين, و به نستعين على أمور الدنيا و الدين و الصلاة و السلام على أشرف الأنبياء و المرسلين و على أله و صحبه أجمعين ( اما بعد )

Imam Ali R. A mengatakan Banyak manusia yang mempelajari suatu ilmu akan tetapi ilmu tersebut tidak melewati tenggorokannya , artinya adalah hatinya tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menerima ilmu kebenarn tersebut.
Bab Menjaga Rahasia

Ketahuilah setiap orang memiliki rahasia , dan memiliki rahasia adalah bukan merupakan aib dan cela ,sebab tidak semua yang ada pada diri anda, boleh diketahui oleh orang lain . rahasia bisa bersifat antara dirimu dengan Alloh, antara dirimu dengan pasanganmu ( Suami / Istri ), ada rahasia yang bersifat kelumpok, dan bahkan ada rahasia yang hanya diketahui oleh orang muslim
Yang namanya rahasia adalah “ bentuk perjanjian antara aku dan dirimu yang tidak orang lain mengetahuinya “ seperti Alloh berfirman :

قال الله تعالى : وَأَوۡفُواْ بِٱلۡعَهۡدِۖ إِنَّ ٱلۡعَهۡدَ كَانَ مَسۡ‍ُٔولٗا ٣٤ ( الإسراء : 34 )

dan penuhilah janji; sesungguhnya janji itu pasti diminta pertanggungan jawabnya

عن أبى سعيد الخدرى رضي الله عنه قال : قال رسول الله ص . ل : إن من أشر الناس عند الله منزلة يوم القيامة الجل يفضى إلى المرأة و تفضى إليه ثم ينشر سرها ( رواه مسلم )

            Dari Abu Said al-Khudri r.a,, katanya: "Rasulullah s.a.w. bersabda:
"Sesungguhnya seburuk-buruknya manusia di sisi Allah dalam hal kedudukannya
pada hari kiamat ialah seseorang lelaki yang menyetubuhi isterinya dan isterinya itupun
menyet'ubuhinya, kemudian menyiar-nyiarkan rahasia isterinya itu," misalnya mengatakan
pada orang lain perihal cara bersetubuhnya atau apa-apa yang dilakukan sebelum itu dan lain-lain. Hal ini termasuk dosa besar .

-          Apa yang terjadi diantaramu wahai suami dan istri itu adalah rahasiamu berdua jangan engkau ceritakan kepada siapapun, jika anda menceritakan kepada orang lain itulah kebdohan dan kedunguan dan merupakan dosa besar dihadapan Alloh SWT
-          Martabat selanjutnya adalah orang yang sudah tidak malu lagi melakuakn kemaksiatan, Bagaimana Alloh mengmpuni dan menutup aib dia sendiri yang menyebar dan menceriatakannya sebab sudah tidak malu lagi melakukan kemaksiatan kepada Alloh

كل أمتي معافى إلا المجاهرون

“Semua umatku itu akan diampuni semuanya kecuali orang yang terang2an didalam melakukan kemaksiatan”
Artinya terang2an dalam melakukan kemaksiatan  “ dia yang dimalam harinya berzina di esok harinya dia berceriata kepada orang2 bahwasanya tadi malam saya berzina , itulah sidungu dan si bahlul , bagaimana jika yang harom sudah tidak malu untuk diceritakan maka yang halal / yang baik2 pun akan semakin banyak yang menceritakan .

Yang namanya malu adalah malu dalam melakukan kemaksiatan  , tetapi jangan ragu dalam kemuliaan , contohnya adalah sayyidina umar bin khottob yang menawarkan anak2nya untuk dinakahi orang soleh

و عن عبد الله بن عمر رضي الله عنهما حين تأيمت بنته حفصة قال : لقيت عثمان بن عفان رضي الله عنه , فعرضت عليه حفصة فقلت : إن شئت أنكحتك حفصة بنت عمر  قال : سأنظر في أمري . فلبثت ليالى, ثم لقيني , فقال : قد بدالي أن لا أتزوج يومي هذا . فلقيت أبا بكر الصديق رضي الله عنه , فقلت : إن شئت أنكحتك حفصة بنت عمر , فصمت أبو بكر رضي الله عنه , فلم يرجع إلي شيئا ! فكنت عليه أوجد مني على عثمان , فلبثت ليالى , ثم خطبها النبي( ص . ل ). فأنكحتها إياه , فلكيني أبو بكر فقال : لعلك و جدت علي حين عرضت علي حفصة فلم أرجع إليك شيئا  فقلت : نعم , قال : فإنه لم يمنعني أن أرجع إليك فيما عرضت علي إلا أني كنت علمت أن النبي ص . ل ذكرها , فلم أكن لأفشي سر رسول الله ( ص . ل ) , ولو تركها النبي ( ص. ل ) لقبلتها . ( رواه البخارى )

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma bahwasanya Umar r.a. pada suatu
ketika puterinya itu menjadi janda yakni Hafshah.
Umar berkata: "Saya bertemu Usman bin Affan, kemudian saya menawarkan padanya
akan Hafshah, lalu saya berkata: "Jikalau anda suka, akan saya kawinkan anda dengan
Hafshah binti Umar." Usman menjawab: "Akan saya fikirkan dulu persoalanku ini," - yakni
suka mengawini atau tidaknya. Saya berdiam diri beberapa malam -maksudnya menantikan
sampai beberapa hari, kemudian ia menemui saya lalu berkata: "Kini telah jelas dalam
pendirian saya bahwa saya tidak akan kawin pada hariku ini." Selanjutnya saya bertemu
dengan Abu Bakar as-Shiddiq r.a. lalu saya berkata: "Jikalau anda suka, saya akan
mengawinkan anda dengan Hafshah binti Umar. Abu Bakar r.a. diam saja dan seterusnya ia
tidak kembali padaku samasekali - yakni tidak memberikan jawaban apa-apa perihal ya atau
tidaknya. Oleh sebab tidak menerima jawaban itu, maka saya lebih sangat marahnya kepada
Abu Bakar daripada terhadap Usman. Selanjutnya saya berdiam diri beberapa malam,
kemudian dipinangoleh Nabi s.a.w. lalu saya mengawinkan Hafshah itu kepada beliau s.a.w.
Setelah itu Abu Bakar menemui saya, kemudian iapun berkatalah: "Barangkali anda
marah kepada saya ketika anda menawarkan Hafshah pada saya itu, tetapi saya tidak
memberikan jawaban apapun pada anda?" Saya berkata: "Ya." Abu Bakar lalu berkata lagi:
"Sebenarnya saja tidak ada yang menghalang-halangi saya untuk kembali - memberikan
jawaban - kepada anda itu perihal apa yang anda tawarkan pada saya, hanya saja karena saya
telah mengerti bahwa Nabi s.a.w. pernah menyebut-nyebutkan Hafshah tadi -maksudnya
beliau s.a.w. ada keinginan akan mengawininya. Maka oleh sebab itu saya tidak akan
menyiar-nyiarkan rahasia Rasulullah s.a.w. itu. Andaikata beliau s.a.w. meninggalkannya -
yakni tidak ada keinginan mengawininya, niscayalah saya menerimanya -yakni suka
mengawininya. (Riwayat Bukhari)
Taayyamat yaitu menjadi tidak bersuami lagi - yakni janda, karena suaminya r.a. telah
wafat. Wajad-ta artinya marah.

Termasuk akhlak Mulia adalah engkau tidak mudah menceritakan apa yang engkau dengar, walopun sesuatu yang engkau dengar adalah baik. Apalagi jika ada orang yang membisikan sesuatu kepadamu atau dia berpesan jangan cerita kepada siapa2 maka itu adalah amanah dan harom bagimu menceritakan kepada orang lain. Kecuali jika sesuatu tersebut yang akan menimbulkan kerusakan seperti “ saya membawa bom yah , mau meledakan pasar, maka ketika memberi tahu polisi

Wallohu a’lam Bisssowab



Selasa, 07 Juni 2016

Khutbah Idul Fitri
Oleh : BUYA YAHYA
Pengasuh Lembaga Pengembangan Dakwah Al-Bahjah Cirebon


KHUTBAH PERTAMA

Allaahu Akbar 9x
Allaahu Akbar Kabiira, Wal-hamdulillaahi Katsiira, Wa Subhanallaahu Bukrotaw Wa Ashiila.
Allah Maha Besar dengan sungguh-sungguh Maha Besar, segala puji bagi Allah, maha suci Allah di pagi dan sore hari.
Laa Ilaaha Illallaahu Wahdah, Shodaqo Wa’dah, Wa Nashoro ‘Abdah, Wa A’Azza Jundahu Wa Hazamal Ahzaaba Wahdah.
Tiada tuhan selain Allah yang maha tunggal, benar dalam janjinya, menolong hambanya, memuliakan tentaranya dan menghancurkan segalanya hanya sendirian.
Laa Ilaaha Illallaah Wa Laa Na’budu Illaa Iyyaahu Mukhlishiina Lahud Din Wa Law Karihal Kaafiruun.
Tiada tuhan selain Allah, tiada kami menyembah melainkan kepadanya dengan semurni-murninya, agama adalah milikinya walaupun orang-orang kafir membenci.

Al-Hamdulillah Al-Ladzi Hadaanaa Lihaadzaa Wa Maa Kunnaa Linahtadiya Law Laa An Hadaanallaah, Wa Man Yahdillaahu Fa Laa Mudhilla Lah, Wa Man Yudhlil Fa Laa Haadiya Lah.
Segala puji bagi Allah yang telah memberi kita petunjuk untuk hadir dalam kesempatan ini, kalau bukan karena Allah memberi petunjuk niscaya kita tidak akan mendapatkan petunjuk. Barangsiapa yang telah diberi petunjuk maka tidak ada satupun yang akan menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Allah sesatkan niscaya tidak ada yang bisa memberinya petunjuk.

Asyhadu Allaa Ilaaha Illallaahu Wahdahu Laa Syariika lahu Syahadata ‘Abdin Lam Yakhsya Illallaah, Wa Asyhadu Anna Muhammadan ‘Abduhu Wa Rasuuluhu Al-Ladzi Ikhtaarohullaahu Washtofaahu.
Aku bersaksi tiada tuhan selain Allah yang maha tunggal dan tiada sekutu baginya dengan persaksian seorang hamba yang tidak takut melainkan hanya kepada Allah. Aku bersaksi sesungguhnya Nabi Muhammad adalah Hamba & Utusannya yang merupakan hamba pilihan Allah.
Allahumma Sholli ‘Alaa Sayyidinaa Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Wa Shohbihi Wa Man Waalah, Ammaa Ba’du.
Semoga Allah melimpahkan rahmat dan keselamatan kepada junjungan kami Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya, sahabatnya dan orang-orang setelahnya.

Fayaa Ayyuhannaas, Ittaqullaah Haqqa Tuqootihi Wa Laa Tamuutunna Ilaa Wa Antum Muslimuun. Wa’lamuu Anna Yaumakum Haadzaa Yaumun ‘Adziim Wa ‘Iidun Kariim. Ahallallaahu Lakum Fiihi At-Tho’ama Wa Harrama ‘Alaikum Fiihi Ash-Shiyaama, Fahuwa Yaumu Tasbiihi Wa Tahmiidin Wa Tahliilin Wa Ta’dziimin Wa Tamjiidin, Fasabbihuu Rabbakum Wa ‘Adz-Dzimuuhu Wa Tuubuu Ilaihi Wastaghfiruuh.
Wahai segenap manusia! Bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian meninggal dunia melainkan kalian dalam Islam. Ketahuilah sesungguhnya hari kalian sekarang ini adalah hari yang amat agung dan hari raya yang mulia. Allah telah menghalalkan makanan dan mengharamkan puasa untuk kalian.
Hari ini adalah hari untuk bertasbih, bertahmid, bertahlil dan mengagungkan Allah, maka bertasbihlah kalian dan Agungkanlah tuhan kalian. Bertaubatlah kepada Allah dan mohonlah ampun kepadanya.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

Di Hari Raya Idul Fitri ini sungguh kita benar-benar berada dalam karunia dan rahmat Allah SWT yang amat besar. Karena saat ini kita dikumpulkan oleh Allah SWT di tempat ini dengan tujuan  menggapai kemuliyaan di hadapan Allah SWT. Merenunglah sejenak akan keberadaan saudara-saudara kita yang belum dipilih oleh Allah untuk mendapat rahmat-Nya, yaitu mereka  yang di saat ini telah berada di dalam sebuah tempat berkumpul akan tetapi Allah murka kepada mereka. Yaitu mereka-mereka yang lalai dan sibuk mengikuti hawa nafsu mereka sehingga mereka tercebur di dalam kubang kemaksiatan dan kenistaan. 

Akan tetapi kita pada saat ini pada detik ini dihantarkan  dan dimudahkan oleh Allah  untuk yang diridhoi oleh Allah, yaitu sholat Id bersama di tempat ini. Inilah nikmat dan rahmat besar dari Allah SWT untuk kita.

Kaum muslimin dan muslimat yang berbahagia.

        Semarak hari raya ‘Idul Fithri kita saksikan. Tradisi mudik, saling berziarah dan halal bi halal mewarnai suasana ‘Idul Fithri di negeri tercinta ini,  yang sungguh membutuhkan  biaya yang amat besar. Ada yang mereka cari, akan tetapi tidak semua dari mereka menemukan apa yang mereka cari. Ada yang mereka rindukan, akan tetapi tidak semua dari mereka menemukan apa yang mereka rindukan. Mereka mencari cinta di sela-sela kesibukannya. Mereka merindukan cinta di tengah-tengah kekerasan dan kebejatan sebagian bangsa manusia. Mereka tidak butuh gebyar lahir, marak hari raya dan berbagai tradisi yang tidak menghadirkan makna cinta. Ada yang perlu dicermati, apa yang menjadikan cinta tidak kunjung terwujud dalam kebersamaan bangsa ini, kendati aktivitas lahir penyambung hati sudah dilaksanakan. Cinta tersembunyi dibalik tabir kedengkian, kesombongan, dan kerakusan yang tak terkendalikan. Maka sesemarak apapun gebyar silaturahmi lahir kita adakan, jika tabir-tabir tersebut tidak disingkap dan disingkirkan sungguh sinar cinta tidak kunjung memancar di hati kita.

        Silaturahmi adalah kalimat yang sering kita dengar, khususnya adalah di saat kita memasuki bulan fitri, dihari raya ‘Idul Fithri. Sehingga apa yang kita dengar dengan arus mudik, berbondong-bondongnya orang pindah dari satu tempat ke tempat lain, berziarah kesana- kemari adalah dalam irama mewujudkan makna silaturahmi ini. Akan tetapi amal perbuatan seperti apapun besarnya, jika tidak dibarengi dengan renungan dan niat yang baik, maka semuanya akan sia-sia.

        Untuk melengkapi apa yang pernah kita lakukan dari tradisi yang mulia ini yaitu silaturahmi, maka perlu dikukuhkan makna bahwa silaturahmi ini adalah menghadirkan makna kerinduan saling cinta diantara sesama manusia, yang tidak cukup hanya dengan sekedar basa-basi. Akan tetapi jika silaturahmi kita ini hanya terbatas kepada basa-basi dzahir, hanya saling mengunjungi dan lain sebagainya, maka sesungguhnya belumlah ia sampai kepada silaturahmi yang sesungguhnya.

        Dan silaturahmi itu adalah hal yang mendekatkan hati seseorang kepada orang lain, mendekatkan antara orang yang saling bermusuhan menjadi orang yang saling mencintai, orang yang saling dendam menjadi orang yang saling merelakan.

        Silaturahmi yang benar adalah jika memang telah menumbuhkan rasa cinta diantara sesama. Sehingga hal yang demikian itu tidak cukup hanya dengan basa-basi  social  saling kunjung dan memberi hadiah, akan tetapi harus dibarengi dengan renungan yang sesungguhnya.

        Pertemuan itu bukan jaminan bersambungnya hati akan tetapi ternyata silaturahmi yang sesungguhnya adalah seperti yang pernah disabdakan oleh Nabi Rasulullah SAW, bahwasanya agar mendapatkan derajat yang besar di hadapan Allah SWT,  seperti yang disabdakan Nabi SAW :
“Laa Tadkhuluunal Jannata Hattaa Tu’minuu Wa Laa Tu’minuu Hatta Tahaabbuu”
"Demi Allah kalian  tidak akan masuk surga kecuali sudah beriman dan tidak akan beriman  secara sesungguhnya diantara kalian  sehingga kalian saling mencintai."

         Saling mencintai itulah yang menghantarkan keindahan di hadapan Allah SWT. Yang sering berziarah kesana kemari jika tidak menghadirkan makna cinta adalah pekerjaan sia-sia. Maka yang harus kita tekankan saat ini adalah ziarah yang kita lakukan secara lahir harus ada buahnya, yaitu  bertemunya hati dan saling cinta. Dan cinta ini mempunyai tanda, diantaranya kita  mudah  untuk memaafkan kesalahan saudara kita, ikut merasakan sakit yang mereka rasakan dan merasa senang atas kegembiraan mereka. Dan ini semua adalah makna yang akan hadir setelah ada makna cinta di dalam hati.

        Sungguh dua orang sahabat yang  saling berziarah, dua-duanya adalah orang yang berkhianat jika ternyata tidak ada cinta di dalam hatinya. Dan untuk menumbuhkan rasa cinta ini adalah disamping kita berziarah secara dzahir, harus disertai dengan berziarah secara bathin. Ziarah secara bathin ini lebih penting daripada ziarah secara dzahir. Ziarah secara bathin ini adalah saling mendoakan kepada sesama kita di saat sesama kita itu tidak ada di hadapan kita. Mendo'akan kepada sesama kita dengan do'a-do'a yang baik biarpun  untuk orang yang memusuhi kita, dan itulah hakikat silaturahmi,. Seperti yang disabdakan Nabi SAW :

 ‘An ‘Abdillah Bin ‘Amr Bin Al-‘Ash Radhiyaallaahu ‘Anhuam ‘Anin-Nabiyyi Shollallaahu ‘Alaihi Wa Sallama Qaala : “Laisal Waashilu Bil-Mukaafi Wa Laakinnal-Waashila Al-Ladzii Iidza Quthi’at Rahimuhu Wa Sholaha”. Rawaahu Ahmad Wal-Bukhari Wa Abu Daud Wat-Tirmidzi Wan-Nasai.
Dari Abdullah Bin Amr Bin Al-‘Ash ra dari Nabi Muhammad SAW beliau bersabda : "Bukanlah menyambung persaudaraan itu adalah membalas kebaikan seseorang, akan tetapi yang dimaksud menyambung silaturahmi itu adalah jika hubungannya diputus ia memulai untuk menyambungnya, jika dia didzalimi sabar  dan memohon maaf terlebih dahulu.”  HR. Imam Ahmad, Imam Bukhari, Imam Abu Daud, Imam Tirmidzi & Imam Nasai.

        Ini adalah makna silaturahmi, maka dari itu marilah kita hadirkan makna do'a, do'a baik yang  sesungguhnya dengan tulus kepada Allah SWT untuk  orang yang kita cintai dan orang-orang yang membenci  dan mendengki kita sekalipun. Dengan inilah kebersihan hati akan segera kita rasakan dan akan terwujud hakikat silaturahmi diantara kita. Dengan hidup dalam kebersamaan dengan penuh kasih dan cinta tanpa dengki dan dendam. Begitu sebaliknya biarpun ziarah dzahir kita lakukan seribu kali dalam sehari tanpa dibarengi dengan ziarah hati yang kami maksud maka tidaklah kita sampai kepada silaturahmi yang sesungguhnya.  Wallahu a'lam bissawb

KHUTBAH KEDUA

Allaahu Akbar 5x
Laa Ilaaha Illallaahu Akbar, Allaahu Akbar Wa Lillaahil-Hamdu. Al-Hamdulillaahil-Ladzii Manna ‘Alainaa Bihaadzihis-Shobiihah Al-Mubaarakah AL-Laami’ah.
Tiada tuhan selain Allah yang maha besar, Allah maha besar dan segala puji hanya milik Allah. Segala puji hanya milik Allah yang telah meng-anugerahkan pagi yang penuh berkah nan ceria kepada kita.

Wash-Sholatu Was-Salamu ‘Alaa Sayyidina Muhammadin Dzil-Anwaaris-Saathi’ah Wa ‘Alaa Aali Baytihi Ath-Thohiriin Wa Ashaabihi Ath-Thoyyibiin Wa Man Tabi’ahum Biihsaanin Ila Yaumid-Diin, Ammaa Ba’du:
Semoga rahmat dan keselamatan terlimpahkan atas junjungan kami Nabi Muhammad SAW yang mempunyai cahaya-cahaya yang menyilaukan, juga kepada Ahli Bait Nabi yang suci dan sahabat-sahabatnya yang baik-baik serta orang-orang yang mengikuti merkea dalam kebaikan sampai hari kiamat. Kemudian :

Fayaa ‘Ibaadallaah Ittaqullaaha Haqqo Tuqootihi Takuunuu ‘Indahu Minal-Muflihiin Al-Faaiziin.
Wahai Hamba-Hamba Allah, bertaqwalah kalian kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa maka kalian akan menjadi orang-orang yang beruntung di hadapan Allah.
‘Ibaadallah, Alaa Fasholluu ‘Ala Khootamin-Nabiyyiin Wa Imaamil-Muttaqiin, Faqod Amarakum Bidzaalika Ar-Rabbu Al-Kariimu, Faqoola Subhaanahu Qoulan Kariiman : “Innallaaha Wa Malaaikatahu Yusholluuna ‘Alan-Nabiyyi Yaa Ayyuhal-Ladziina Aamanuu Sholluu ‘Alaihi Wasallimuu Tasliiman.” Qs. Al-Ahzab : 65
Wahai Hamba-Hamba Allah, hendaknya kalian membaca Sholawat kepada penutup para nabi dan pemimpin orang-orang yang bertaqwa, sungguh Tuhan yang maha mulia telah memerintahkan hal tersebut. Allah SWT berfirman : “Sesungguhnya Allah dan para Malaikatnya membaca Sholawat kepada Nabi (Muhammad), wahai orang-orang yang beriman bacalah Sholawat & Salam kepadanya”. QS. Al-Ahzab : 65

Allohumma Sholli Wa Sallim ‘Ala ‘Abdika Wa Rasuulika Sayyidina Wa Nabiyyina Muhammadin Wa ‘Alaa Aalihi Wa Ashaabihi Al-Ladziina ‘Alaa Bihim Manaarul-Iimaani Wartafa’a, Wa Syayyadallaahu Bihim Min Qowaa’idad-Diini Al-Haniifi Maa Syara’a, Wa Akhmada Bihim Kalimata Man Haada ‘Anil-Haqqi Wa Maala Ilal-Bida’i.
Ya Allah limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada Hamba & Utusan-Mu yaitu junjungan kami Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya dan para sahabatnya yang dengan mereka Menara Iman menjadi tinggi dan naik. Dan dengan mereka Allah membangun Kaidah-Kaidah Agama yang lurus. Dan dengan mereka Allah memadamkan perkatan orang-orang yang menghalangi kebenaran dan condong kepada hal-hal yang bid’ah.
 Allaahumma Wardho ‘An Khulafaa-ihi Al-Arba’ah, Saadaatina Abii Bakrin Wa ‘Umara Wa ‘Ustmaana Wa ‘Aliyyin Wa ‘An Saa-iri Ashaabi Rasuulika Ajma’iina. Allaahummaghfir Lilmu’miniina Walmu’minaati Al-Ahyaai Minhum Wal Amwaati Innaka Samii’un Qoriibun Mujiibud-Da’awaati, Allahummastur ‘Auraatinaa Aamin Rau’aatinaa Wakfina Ma Ahammanaa Wa Qina Syara Ma Takhawwafana.
Ya Allah ridhoilah Khalifah Nabi-Mu yang empat, yaitu Abu Bakar, Umar, Utsman dan Ali serta ridhoi pula sahabat-sahabat Rasul-Mu semuanya. Ya Allah Ampunilah orang-orang yang beriman baik yang masih hidup ataupun yang telah meninggal, sesungguhnya Engkau maha mendengar, maha dekat dan mengabulkan segala do’a. Ya Allah tutuplah aib-aib kami, berilah kemaanan bagi rakyat kami, cukupkanlah kami dari apa yang penting menurut kami serta selamatkanlah kami dari keburukan yang kami hawatirkan.

 ‘Ibaadallaah, Innallaaha Ya’muru Bil ’Adli Wal Ihsaani Wa Iitai Dzil-Qurbaa Wa Yanhaa ‘Anil-Fahsyaa-I Wal Munkari Wal Baghyi, Ya’idzukum La’allakum Tadzakkaruuna. Udzkurullaaha Al-‘Adziima Yadzkurkum Wasykuruuhu Yazidkum Wastaghfiruuhu Yaghfir Lakum Wat-Taquuhu Yaj’al Lakum Min Amrikum Makhroja.

Wahai Hamba-Hamba Allah, sesungguhnya Allah menyuruh agar berbuat adil dan baik, member kepada kerabat dan mencegah dari keburukan, kemungkaran dan hal-hal yang tercela, Allah memberi peringatan agar kalian menjadi orang-orang yang selalu ingat. Ingatlah Allah yang Maha Agung niscaya Allah akan mengingat kalian, bersyukurlah kepada-Nya niscaya Allah akan menambahkan untuk kalian, memohonlah ampun kepada-Nya niscaya Allah akan mengampuni kalian, bertaqwalah kepada-Nya niscaya Allah akan memberi jalan keluar atas setiap permasalahan kalian.